Tinjauan Manajemen Pendidikan Dalam Persfektif Psikologi
Hubungan psikologi dalam dunia
pendidikan sangat erat sebab dalam lingkungan pendidikan yang menjadi tempat
terlibatnya individu yang saling berinteraksi yang akan menimbulkan
gejala-gejala psikologi serta tingkah laku yang
berbeda antara yang satu dengan yang lainya. Syah (2010:18) menjelaskan
setidaknya ada 10 macam kegiatan dalam pendidikan yang banyak memerlukan
prinsip-prinsip psikologis yakni: 1) seleksi penerimaan siswa baru; 2)
perencanaan pendidikan; 3) penyusunan kurikulum; 4) penelitian pendidikan; 5)
administrasi kependidikan; 6) pemilihan materi pelajaran; 7) interaksi
mengajar-belajar; 8) pelayanan bimbingan dan penyuluhan; 9) metodologi
mengajar; dan 10) pengukurun dan evaluasi.
Tinjauan manajemen pendidikan dalam
persfektif psikologi dapat ditinjau dari aspek fungsi manajemen pendidikan, dalam
hal ini dapat dihubungkan tinjuan manajeman pendidikan dalam persfektif
psikologi melalui telaah fungsi manajeman yang dikemukakan oleh Hamalik
(2006:81-82), dalam kajian manajemen pendidikan disebutkan bahwa fungsi
manajemen meliputi lima unsur pokok seperti yang telah dikemukakan sebelumnya
dalam hakekat manajemen pendidikan.
Dari kelima fungsi tersebut maka ada empat aspek dari fungsi tersebut
yang dapat diuraikan tinjauan manajemen pendidikan dalam persfektif psikologi
yaitu sebagai berikut pertama, fungsi perencanaan mencakup berbagai kegiatan
menentukan kebutuhan, penentuan strategi pencapaian tujuan, menentukan isi
program pendidikan, dan lain-lain. Dalam rangka pengelolaan perlu dilakukan
kegiatan penyususnan rencana, yang menjangkau kedepan untuk memperbaiki keadaan
dan memenuhi fungsi kebutuhan dikemudian hari, menentukan tujuan yang hendak
ditempuh, menyusun program yang meliputi
pendekatan, jenis, dan urutan kegiatan, menetapkan rencana biaya yang
diperlukan, serta menentukan jadwal dan proses kerja.
Pada fungsi manajemen pendidikan sebagai suatu perencanaan diperlukan
tinjauan psikologis khususnya terhadap potensi-potensi yang dimiliki manusia
dihubungkan dengan aktivitas-aktivitas yang akan dilakukan dalam rangka
mencapai tujuan yang diinginkan. Dalam fungsi perencanaan perlu diperhatikan
perencaan terhadap individu selaku perencana dan pelaksana dari perencaaan yang
telah dibuat sebelumnya yang memperhatikan aspek pembawaan seseorang. Menurut
Purwanto (2010:26), tiap-tiap orang atau individu memiliki pembawaan watak,
intelejensi, sifat-sifat dan sebagainya yang
berbeda-beda. Dengan perbedaan tersebut maka dalam perencanaan
diperlukan perhatian besar terhadap kharakteristik individu seperti pada
perencanaan pendidikan dalam menentukan kebutuhan, strategi, serta isi
kurikulum. Perlu diperhatikan pemahaman mengenai perkembangan individu seperti
pada peserta didik yaitu sejak masa sensori motor hingga ketahapan formal
operasional. Dengan demikian perencanaan yang dilandaskan atas pemahaman konsep
psikologi akan mengarahkan kepada tujuan yang diharapkan serta dapat terlaksana
dengan baik, karena telah memperhatikan aspek kemanusiaan melalui pertimbangan
terhadap objek formal psikologi yaitu
manusia.
Fungsi kedua ialah fungsi organisasi, meliputi pengelolaan ketenagaan,
sarana dan prasarana, distribusi tugas dan tanggung jawab, dalam pengelolaan
secara integral untuk itu diperlukan kegiatan-kegiatan seperti mengidentifikasi
jenis tanggung jawab dan wewenang serta
merumuskan aturan hubungan kerja. Melalui kegiatan pengelolaan ketenagaan dalam
fungsi organisasi perlu didasarkan atas pertimbangan konsep psikologi agar
dapat mengoptimalisasikan efektivitas menyeluruh dalam organisasi untuk
mencapai apa yang telah direncanakan sebelumnya. Manajemen pendidikan perlu
dilaksanakan secara sinergistis antar sistem khusunya dikaitkan atas keberadaan
organisasi sebagai himpunan pelaksana dalam manajemen pendidikan yang telah
terstruktus secata sistematis dengan fungsi dan perannya masing-masing.
Fungsi ketiga adalah
fungsi koordinasi yang berupaya menstabilakan antara berbagai tugas, tanggung
jawab dan kewenangan untuk menjamin pelaksanaan dan berhasilnya program
pendidikan. Dalam fungsi koordinasi sangat berkaitan dengan proses interaksi
timbal balik yang terjadi khususnya antara fungsi masing-masing individu dalam
suatu organisasi dan tidak terlepas pula dari tinjauan perilaku yang terjadi
pada proses pelaksanaan manajemen pendidikan.
Fungsi keempat yaitu
motivasi yang dimaksudkan untuk meningkatkan efisiensi proses dan keberhasilan
program pelatihan dalam manajeman. Winardi (1984:12), menyebutkan motivasi
dapat bersifat positif dan negatif. Motivasi positif yang kadang-kadang
dinamakan sebagai cara pendekatan dengan memberikan umpan (carrot approach) sedangkan motivasi negatif sebut juga sebagai cara
pendekatan dengan ancaman (stick
approach) yang menggunakan ancaman-ancaman hukuman.
Luar biasa
BalasHapusNice
BalasHapusMenarikk
BalasHapusSangat bermanfaat
BalasHapusSangat bermanfaat
BalasHapusgood
BalasHapusBermanfaat
BalasHapusSangat memuaskan
BalasHapusbagus
BalasHapusSangat bermanfaat
BalasHapusMantapp
BalasHapusbagus
BalasHapusSangat bermanfaat
BalasHapusGood
BalasHapusbermanfaat
BalasHapusMenarik
BalasHapusNice
BalasHapus